Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pesan Penyemangat di Balik Bantuan ANTI SAKIT Sentuh Hati Penerima
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Kapolda Kepri Suhendri, Anak Minang yang Pernah Bermimpi Jadi Pedagang

Kamis, 15 Oktober 2026 | 12:57 WIB
  • author Loberto Boli
Kisah Kapolda Kepri Suhendri, Anak Minang yang Pernah Bermimpi Jadi Pedagang
Kapolda Kepri, Irjen Pol Suhendri. (Foto: Bob/iNews.id)

BATAM, iNewsBatam.id - Di balik seragam jenderal bintang dua, Irjen Pol Suhendri menyimpan cerita tentang kampung halaman, pilihan hidup, dan pengabdian yang membawanya kembali ke Kepulauan Riau (Kepri).

Bagi Suhendri, Kepri bukan wilayah yang asing. Sebelum dipercaya menjabat Kapolda Kepri, ia pernah bertugas sebagai Komandan Satuan Brimob Polda Kepri pada 2009. Saat itu, ia masih berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) dan menghadapi berbagai situasi keamanan yang menantang.

Salah satu peristiwa yang masih diingatnya adalah keributan pekerja di PT Drydock World Graha pada 2010. Kenangan itu kembali ia ceritakan saat berbincang dengan pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Kepri, Rabu (14/10/2026).

“Saya dulu di sini. Waktu pecah keributan di PT Drydock World Graha, saya masih Dansat Brimob,” kata Suhendri mengenang masa tugasnya.

Kala itu, ia harus memimpin anggota Brimob untuk mengendalikan situasi yang berpotensi menimbulkan korban jiwa. Upaya meredam keributan dan menjaga keadaan tetap terkendali menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus dijalankannya.

Kini, belasan tahun berselang, Suhendri kembali ke tanah Melayu dengan tanggung jawab lebih besar. Ia tidak lagi memimpin satuan Brimob, tetapi mengemban amanah sebagai Kapolda Kepri.

Namun, perbincangan bersama para jurnalis tidak hanya membawa Suhendri kembali pada pengalaman tugasnya. Ada cerita lain yang memperlihatkan sisi personal seorang perantau asal Minangkabau.

Anak Minang yang Pernah Mimpi Jadi Pedagang

Dengan gaya santai, Suhendri bercerita tentang keluarganya di kampung halaman. Orang tuanya dahulu memiliki rumah makan yang menjadi tempat persinggahan bus-bus pada masanya.

Kehidupan di sekitar rumah makan itu menjadi bagian dari kenangan masa kecilnya. Ia pun sempat membayangkan jalan hidup yang berbeda jika tidak memilih menjadi anggota Polri.

“Orang tua saya di kampung itu punya rumah makan. Biasanya tempat bus-bus berhenti makan zaman dulu. Kalau saya tidak jadi anggota polisi, mungkin saat ini saya tidak merantau. Ambo manggaleh,” ujarnya sambil tersenyum.

Dalam bahasa Minangkabau, ambo manggaleh berarti saya berdagang.

Ucapan sederhana itu memperlihatkan kemungkinan hidup yang pernah terlintas di benaknya. Jika tidak mengenakan seragam polisi, bukan tidak mungkin Suhendri meneruskan jejak keluarganya di dunia usaha.

Namun, jalan hidup membawanya memilih profesi kepolisian. Dari satu penugasan ke penugasan lain, kariernya terus berjalan hingga dipercaya memimpin Polda Kepri.

Bagi masyarakat Minangkabau, merantau lekat dengan semangat mencari pengalaman, membangun kehidupan, dan mengemban tanggung jawab. Dalam perjalanan Suhendri, nilai tersebut bertemu dengan tuntutan pengabdian sebagai anggota Polri.

Pilihan menjadi polisi juga berarti menjalani kehidupan dengan tanggung jawab yang tidak ringan. Penugasan menuntutnya siap menghadapi berbagai persoalan, sekaligus menjalani hari-hari jauh dari kampung halaman dan keluarga.

Ramah dan Humoris Saat Bertemu Jurnalis

Suasana audiensi Suhendri dengan pengurus IJTI Kepri berlangsung cair. Ia berbicara santai, sesekali tersenyum dan melontarkan humor saat mengenang pengalaman masa lalu.

Bahasa Minangkabau yang sesekali digunakannya ketika bercerita tentang keluarga turut menghangatkan suasana. Percakapan pun berkembang dari urusan keamanan menjadi kisah tentang kampung halaman dan perjalanan hidup.

Pertemuan tersebut menjadi audiensi pertama IJTI Kepri dengan Suhendri sejak ia menjabat Kapolda Kepri.

Di hadapan para jurnalis, Suhendri berharap komunikasi dan koordinasi antara kepolisian dengan insan pers dapat terus terjaga. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, termasuk mengenai keamanan dan ketertiban.

“Saya ingin teman-teman IJTI men-support saya, seperti bagaimana rekan-rekan dulu men-support pimpinan yang terdahulu,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang baik antara kepolisian dan media. Hubungan yang terbuka diharapkan dapat mendukung penyampaian informasi yang akurat kepada masyarakat.

IJTI Ingatkan Pentingnya Independensi Pers

Ketua IJTI Kepri, Gusti Yennosa, yang akrab disapa Oca, menyambut baik harapan Kapolda Kepri untuk memperkuat komunikasi dengan jurnalis.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa sinergi dengan kepolisian harus tetap berjalan tanpa mengorbankan independensi pers. Profesionalisme, integritas, dan akurasi tetap menjadi prinsip utama dalam menghasilkan karya jurnalistik.

“Kami tetap mengedepankan kualitas dan integritas karya jurnalistik. Namun, fokus kami bersama adalah menjaga kamtibmas di Kota Batam melalui kerja sama yang erat, sesuai dengan prinsip Polisi Bersama Masyarakat,” kata Oca.

Ia menekankan, media memiliki tanggung jawab menyampaikan fakta kepada publik, termasuk ketika memberitakan persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.

Karena itu, komunikasi antara kepolisian dan pers perlu dibangun dengan tetap menghormati peran masing-masing. Kepolisian menjalankan tugas menjaga keamanan, sedangkan jurnalis bekerja menyampaikan informasi sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

Editor: Gusti Yennosa

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut