BATAM, iNewsBatam.id – Seorang warga Batam, Amnah Fitriah Mona, batal menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci setelah diduga menjadi korban penipuan oleh PT Altin Tour and Travel (Altintur).
Akibat kejadian tersebut, Mona mengaku mengalami kerugian hingga Rp100 juta untuk biaya keberangkatan lima orang jemaah.
Peristiwa bermula pada Juli 2025, saat Mona tertarik dengan promo umrah “beli 4 gratis 1” yang ditawarkan pihak Altintur melalui pesan siaran WhatsApp.
Ia mengaku mengenal travel tersebut dari kerabat yang sebelumnya pernah menggunakan jasa Altintur.
“Dari cerita kerabat kami, Altin Tour terlihat bagus dan terpercaya, banyak testimoni positif. Itu yang membuat kami ikut mendaftar. Saat ini sudah saya laporkan ke Polsek Batam Kota,” ujar Mona, Kamis (29/1/2026).
Dalam promo tersebut, biaya umrah ditawarkan Rp25 juta per orang. Namun, Mona diminta mentransfer pembayaran ke rekening pribadi pemilik Altintur atas nama Agustina, bukan ke rekening perusahaan.
“Alasannya rekening perusahaan tidak bisa digunakan. Awalnya ragu, tapi karena percaya dan keluarga kami sebelumnya berangkat, akhirnya uang itu kami transfer,” katanya.
Setelah pembayaran dilakukan pada Desember 2025, Mona mulai menemukan kejanggalan. Sejumlah fasilitas yang dijanjikan tidak diterima, seperti koper dan seragam lengkap. Pihak travel berdalih stok koper habis dan menjanjikan pembagian pada 29 Desember 2025.
Keluarga Mona hanya menerima beberapa perlengkapan, seperti syal bertuliskan Altintur, mukena, bahan seragam yang harus dijahit sendiri, serta buku panduan umrah. Hingga waktu yang dijanjikan, perlengkapan tersebut tak kunjung lengkap.
Selain itu, keluarga Mona juga melakukan persiapan ibadah secara mandiri, mulai dari perlengkapan pakaian, obat-obatan, hingga kebutuhan pribadi lainnya.
Masalah semakin jelas pada Sabtu (27/12/2025), ketika Mona mendapat informasi bahwa Altintur diduga bermasalah setelah sekitar 80 jemaah dari sebuah pondok pesantren gagal diberangkatkan sejak November 2025.
Sejak itu, pemilik Altintur tidak dapat dihubungi.
Perubahan mencurigakan juga terjadi di grup komunikasi jemaah, seperti percakapan lama yang diduga dihapus, kolom komentar dinonaktifkan, serta jumlah admin dikurangi.
“Seolah-olah komunikasi diputus. Antar agen, antar jemaah, tidak bisa saling berbicara,” ujarnya.
Sejumlah grup korban dengan nama “Korban Altintur” pun bermunculan. Dari grup tersebut terungkap bahwa dugaan korban tidak hanya berasal dari Batam, tetapi juga dari Tanjunguban, Tanjungpinang, Dabo Singkep, Kalis, Guntung, hingga daerah lainnya.
Mona mengaku kerugian yang dialaminya mencapai Rp100 juta untuk lima orang jemaah. Sementara salah satu kerabatnya disebut mentransfer dana hingga Rp400 juta untuk 13 orang jemaah.
“Kalau uang itu tidak kembali, kami ikhlas, lillahi ta’ala. Tapi kami tidak ikhlas kalau beliau bebas dan tidak ada keadilan,” tegasnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Batam Kota, Iptu Bobby Ramadhana Fauzi, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Perkara masih dalam proses penyelidikan. Perkembangan perkara akan kami sampaikan kepada pelapor melalui SP2HP,” ujarnya singkat.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
