Wali Murid Bantah Intimidasi Guru Playgroup di Batam, Sebut Ada Dugaan Kekerasan Anak

Pratamayude
Sri Suryati (41), wali murid di Batam memberikan klarifikasi soal tudingan intimidasi terhadap guru playgroup. (Foto: Yude/iNews.id)

BATAM, iNewsBatam.id – Wali murid bernama Sri Suryati (41) akhirnya angkat bicara terkait insiden di playgroup Sekolah Djuwita, Batam Centre, yang sebelumnya dilaporkan sebagai aksi intimidasi terhadap guru. Ia membantah tudingan tersebut dan menyebut kedatangannya ke sekolah dipicu dugaan kekerasan terhadap anaknya.

Sri menegaskan, dirinya tidak membawa preman, melainkan sekitar 15 orang yang merupakan karyawannya dan kebetulan sedang mengikuti agenda pertemuan kerja.

“Saya tidak membawa premanisme. Itu karyawan saya, mereka memang sedang meeting dengan saya hari itu,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Rabu (29/4/2026).

Ia menjelaskan, emosinya memuncak setelah melihat perubahan perilaku anaknya yang masih berusia 2,5 tahun sejak bersekolah. Anak tersebut disebut menjadi ketakutan dan menolak masuk sekolah.

“Anak saya sampai teriak ‘mami help’ dan tidak mau masuk. Itu terjadi berulang kali,” katanya.

Sri juga mengungkap dugaan perlakuan tidak layak oleh oknum guru, termasuk cara memberi makan yang dinilai berlebihan dan memaksa hingga anak muntah dan menangis.

“Anak-anak disuapi secara paksa, bahkan disumpel air supaya cepat makan,” ujarnya.

Selain itu, ia menuding adanya tindakan kasar terhadap anak saat proses belajar. Dugaan tersebut diperkuat dengan pengakuan anaknya yang mengaku dipukul, meski awalnya tidak terlihat luka fisik.

“Anak saya bilang dipukul, besoknya baru terlihat lebam,” ucapnya.

Sri juga menyoroti minimnya transparansi pihak sekolah, khususnya terkait rekaman CCTV. Ia mengaku beberapa kali meminta rekaman, namun selalu mendapat alasan teknis.

“Setiap saya minta CCTV, selalu ada alasan. Ini yang membuat saya curiga,” katanya.

Terkait kedatangannya bersama sejumlah orang ke sekolah, Sri menegaskan tujuannya untuk mengumpulkan bukti, bukan melakukan intimidasi. Ia bahkan meminta karyawannya mendokumentasikan kejadian tersebut.

“Saya minta mereka ambil foto dan video untuk bukti,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika memang ada niat intimidasi, situasi di lokasi akan jauh lebih buruk.

“Kalau mau menyerang, kenapa saya yang duduk dan debat? Mereka hanya di luar dan masuk setelah saya minta,” tegasnya.

Sri juga menyayangkan langkah pihak sekolah yang langsung melaporkan kejadian ke polisi tanpa proses mediasi terlebih dahulu.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Barelang, Debby Tri Andreastian, membenarkan laporan tersebut dan menyatakan kasus masih dalam proses penyidikan.

“Sudah ada laporannya. Kami telah memeriksa sejumlah pihak dan saat ini masih dalam proses penyidikan,” ujarnya.

Kasus ini kini ditangani Unit Jatanras Polresta Barelang untuk pendalaman lebih lanjut.

Editor : Gusti Yennosa

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network