Air Warga Nongsa Mati 3 Bulan, BP Batam Sebut El Nino Jadi Penyebab

Loberto Boli
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano. (Foto: Bob/iNews.id)

BATAM, iNewsBatam.id - Krisis air bersih yang berlangsung hampir tiga bulan membuat ratusan warga Kavling Bakau Serip memblokade akses menuju Nongsa Digital Park (NDP), Batam, Kepulauan Riau, Senin (5/10/2026) pagi.

Aksi yang didominasi kaum ibu itu membuat akses kendaraan menuju kawasan industri tersebut sempat terganggu. Warga datang membawa ember dan galon kosong sebagai simbol sulitnya mendapatkan air bersih.

Mereka juga membentangkan sejumlah poster berisi tuntutan, di antaranya "Warga Sengsara, Industri Makin Jaya" dan "Kami Butuh Air".

Salah seorang warga, Dewi, mengatakan kondisi air mati total yang mereka alami saat ini merupakan yang terparah selama puluhan tahun tinggal di Kavling Bakau Serip.

"Selama kami tinggal di daerah sini, khususnya Kavling Bakau Serip, sudah puluhan tahun. Baru kali ini air mati total," ujar Dewi di lokasi aksi, Senin (5/10/2026).

Menanggapi aksi tersebut, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menjelaskan persoalan penurunan pasokan air di kawasan Nongsa.

Menurut Denny, kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino menyebabkan elevasi air di bendungan menurun. Kondisi itu berdampak langsung terhadap kapasitas produksi air untuk wilayah Nongsa.

"Kondisi kemarau ini membuat produksi air kita turun jauh. Biasanya di Nongsa kami mampu memproduksi 90 liter per detik (LPS), tetapi hari ini kami tinggal memproduksi kurang lebih 25 liter per detik," kata Denny di lokasi.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan, BP Batam kini mengalirkan air ke kawasan Nongsa dari Bendungan Duriangkang dengan bantuan stasiun pompa penguat atau booster pump.

Di tengah aksi warga, muncul pula dugaan bahwa keberadaan data center di kawasan NDP menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasokan air untuk permukiman.

Denny membantah tudingan tersebut. Ia memastikan kebutuhan air data center saat ini tidak mengambil pasokan dari jaringan air Nongsa yang digunakan masyarakat.

"Saat ini tidak ada satu pun kebutuhan air data center yang mengambil dari pasokan air Nongsa. Contohnya Equator, saat ini belum beroperasi. Kalaupun ada yang sudah beroperasi di kawasan ini, konsumsi airnya masih sangat kecil," tegasnya.

Menurut Denny, pengelola data center juga tengah menyiapkan sumber air secara mandiri. Salah satunya melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau pengolahan air laut menjadi air tawar.

Selain SWRO, pengelola juga menyiapkan kolam penampungan air hujan untuk memenuhi kebutuhan operasional.

Denny sekaligus membantah informasi yang menyebutkan adanya pasokan air sebesar 160 LPS dari Bendungan Duriangkang yang dialirkan khusus untuk kebutuhan data center.

"Pasokan 160 LPS itu tidak ada. Saya tahu pasti berapa debit yang terkirim, dan tidak ada air dari Duriangkang sebesar itu yang masuk ke data center," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kebutuhan air yang terus meningkat, BP Batam menyiapkan pembangunan infrastruktur pasokan air baru.

Tahap pertama pembangunan tersebut dirancang memiliki kapasitas 1.200 hingga 1.800 LPS dan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar delapan bulan hingga satu tahun.

Sementara itu, polisi masih disiagakan di sekitar pintu masuk NDP. Personel mengatur arus lalu lintas sekaligus menjaga situasi tetap kondusif selama aksi warga berlangsung.

Editor : Gusti Yennosa

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network