Kepala Playgroup Djuwita Batam: Dugaan Intimidasi dan Ancaman Wali Murid Picu Trauma Guru
BATAM, iNewsBatam.id – Dugaan intimidasi oleh seorang wali murid di Playgroup Djuwita Batam berbuntut panjang.
Insiden yang melibatkan puluhan orang tak dikenal (OTK) tersebut membuat sejumlah guru mengalami trauma dan berujung laporan ke pihak kepolisian.
Kepala Playgroup Djuwita Batam, Lidia, mengatakan peristiwa itu terjadi pada Selasa (29/4/2026) sekitar pukul 13.45 WIB, bertepatan dengan jam istirahat siswa.
Awalnya, kedatangan wali murid tersebut telah dikonfirmasi sehari sebelumnya melalui sambungan telepon untuk bertemu pihak sekolah.
“Namun situasi berubah ketika yang bersangkutan datang bersama sekitar 25 orang yang tidak kami kenal,” ujar Lidia, Kamis (30/4/2026).
Menurut dia, sebagian OTK berada di gerbang dan ruang tunggu sekolah. Sementara wali murid tersebut bersikeras bertemu wali kelas dan meminta dirinya ikut dalam pertemuan di dalam ruangan.
Pihak sekolah sempat mengira pertemuan itu untuk membahas kondisi anak yang tidak mengikuti kegiatan belajar. Namun, suasana berubah tegang ketika wali murid menyampaikan kedatangannya bukan untuk klarifikasi.
“Yang bersangkutan justru menyatakan datang untuk membalas dendam kepada guru terkait kondisi anaknya,” kata Lidia.
Saat guru mencoba memberikan penjelasan, wali murid tersebut disebut terus memotong pembicaraan dan meninggikan suara. Situasi semakin memanas ketika sejumlah OTK masuk ke ruang kantor sambil membawa kamera.
Lidia menyebut, wali murid tersebut melakukan intimidasi verbal kepada tiga guru dengan kata-kata tidak pantas.
Tidak hanya itu, setelah sebagian OTK meninggalkan lokasi, wali murid tersebut sempat menemui mereka. Dari rekaman CCTV, terlihat adanya dugaan pemberian sesuatu kepada OTK, meski belum diketahui bentuk maupun tujuannya.
Setelah kembali ke dalam ruangan, wali murid itu memaksa tiga guru memberikan nomor telepon pribadi. Tak lama kemudian, para guru menerima pesan berisi data pribadi mereka.
“Bahkan ada salah satu guru yang dipaksa makan dengan cara dipegang rahangnya,” ungkap Lidia.
Insiden tersebut juga diketahui oleh wali murid lain yang kemudian menghubungi keluarganya untuk memastikan kondisi guru dalam keadaan aman.
Akibat kejadian itu, dua dari tiga guru dilaporkan mengalami trauma dan belum dapat beraktivitas normal.
Pihak sekolah memastikan telah melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian dan tengah melakukan pemeriksaan internal.
Lidia juga menegaskan, tidak ada tindakan kekerasan yang dilakukan pihak sekolah terhadap anak wali murid tersebut. Ia menyebut seluruh aktivitas terekam kamera pengawas (CCTV), namun sebelumnya tidak pernah diminta oleh pihak terkait.
“Yang bersangkutan juga sempat mengancam akan mencari para guru jika kasus ini dilanjutkan ke polisi,” katanya.
Editor : Gusti Yennosa