get app
inews
Aa Text
Read Next : Tim Gabungan Gagalkan Pengiriman Kayu Kruing Diduga Ilegal di Lingga, Ini Penampakannya

Kisah Anak Guru Iptu Maidir Riwanto: Lingga Tempat Lahir, Saya Tahu Rasanya Hidup Susah

Senin, 25 Mei 2026 | 13:56 WIB
header img
Kasat Reskrim Polres Lingga, Iptu Maidir Riwanto, saat menyerahkan bantuan kepada warga lanjut usia di Kabupaten Lingga. (Foto: Ruslan/iNews.id)

LINGGA, iNewsBatam.id – Suasana siang itu mendadak hening ketika seorang nenek renta bernama Kecit (84) menerima bingkisan sembako dari tangan seorang polisi berseragam. Tangannya gemetar, matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih, Nak… semoga berkah,” ucapnya lirih.

Di hadapannya berdiri Maidir Riwanto, sosok polisi yang belakangan dikenal warga Lingga bukan hanya karena tugasnya sebagai penegak hukum, tetapi juga karena kepeduliannya kepada masyarakat kecil.

Bagi warga kurang mampu dan mereka yang tengah sakit, Iptu Maidir bukan sekadar aparat kepolisian. Ia hadir seperti keluarga sendiri.

Di balik seragam dan jabatan sebagai Kasat Reskrim Polres Lingga, tersimpan kisah hidup yang penuh perjuangan.

Maidir lahir dan besar di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang guru yang menjadi sosok penting dalam membentuk perjalanan hidupnya.

Tak hanya mengajar di sekolah, sang ayah juga rela menjadi wasit sepak bola demi menambah penghasilan keluarga.

Meski bekerja keras, kehidupan mereka tetap jauh dari kata berkecukupan.

Kenangan masa kecil itu masih membekas kuat di ingatan Maidir, terutama ketika menjelang Hari Raya Idulfitri.

Saat anak-anak lain bisa dengan mudah membeli pakaian baru, ia justru melihat ayahnya harus berutang terlebih dahulu demi memenuhi keinginan sederhana sang anak.

“Kalau lebaran sudah dekat, ayah sering berutang dulu supaya saya bisa punya baju baru,” kenangnya.

Dari sosok ayahnya itulah Maidir belajar tentang tanggung jawab, ketulusan, dan arti membantu sesama meski dalam keterbatasan.

Nilai-nilai itu kemudian tumbuh menjadi bagian dari dirinya hingga kini.

Karena itulah, saat dipercaya menjadi perwira polisi, ia memilih tetap dekat dengan masyarakat.

Tanpa banyak sorotan, Iptu Maidir rutin turun langsung membagikan sembako kepada warga kurang mampu. Ia mendatangi rumah-rumah warga, menyapa satu per satu, memastikan bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Seperti yang dirasakan nenek Kecit.

Bantuan sederhana itu mungkin tak seberapa bagi sebagian orang. Namun bagi perempuan lanjut usia tersebut, perhatian kecil itu menghadirkan rasa bahagia dan harapan.

Air mata Kecit menjadi saksi bahwa kepedulian sederhana mampu berarti besar bagi orang lain.

Tak hanya membantu warga kurang mampu, Iptu Maidir juga dikenal sering menjenguk masyarakat yang sakit. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia ikut membantu proses pengobatan warga yang kesulitan biaya.

Baginya, polisi bukan hanya hadir ketika ada persoalan hukum, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan uluran tangan.

“Lingga ini tempat saya lahir dan dibesarkan. Saya tahu rasanya hidup susah. Jadi kalau sekarang bisa membantu, itu sudah menjadi kewajiban saya,” ujar Maidir, Sabtu (23/5/2026).

Di tengah tugas berat sebagai penegak hukum, ia tetap menjaga sisi humanis dalam pengabdiannya.

Bagi Maidir, menjadi polisi bukan semata soal menindak pelanggaran, tetapi juga melindungi dan mengayomi masyarakat dengan hati.

Kisah hidupnya menjadi gambaran bagaimana perjuangan orang tua mampu membentuk karakter seorang anak.

Dari anak seorang guru sederhana yang hidup dalam keterbatasan, kini IPTU Maidir hadir sebagai sosok polisi yang membawa harapan bagi warga kecil di Lingga.

Dan bagi nenek Kecit, pria itu bukan sekadar aparat berseragam, melainkan penolong yang datang di saat yang tepat.

Editor : Gusti Yennosa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut