BATAM, iNewsBatam.id - Konflik ketenagakerjaan di PT Ghim Li Indonesia, Batam, memasuki babak baru. Buruh mendirikan tenda keprihatinan di depan pabrik dan berjaga selama 24 jam untuk mengawal aset perusahaan di tengah belum dibayarkannya gaji mereka.
Pabrik tekstil yang berada di Kawasan Industri Tunas, Batam Center, itu diketahui sudah tidak beroperasi. Para pekerja memilih tetap bertahan di lokasi karena khawatir terjadi pemindahan aset perusahaan sebelum hak-hak mereka diselesaikan.
Anggota Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) sekaligus pekerja PT Ghim Li Indonesia, Andi, mengatakan tenda tersebut telah berdiri selama tiga hari.
Menurut dia, penjagaan dilakukan secara bergiliran. Buruh tetap berada di lokasi baik pada siang maupun malam hari.
"Tenda ini didirikan guna menjaga aset perusahaan yang dikhawatirkan kabur. Hal ini kami lakukan agar tetap bisa menuntut hak kami kepada perusahaan," kata Andi di lokasi aksi, Minggu (13/9/2026).
Andi mengatakan para buruh tidak hanya melakukan penjagaan pada siang hari. Pada malam hari, sebagian pekerja tetap menginap di tenda untuk memastikan pengawasan terhadap aset perusahaan tidak terputus.
"Tidak hanya di siang hari saja kami berjaga, melainkan saat malam hari pun juga ada yang menjaga," ujarnya.
Pendirian tenda tersebut merupakan buntut dari persoalan ketenagakerjaan yang belum kunjung menemukan penyelesaian. Salah satunya adalah gaji periode Agustus 2026 yang hingga kini belum dibayarkan kepada 1.025 buruh.
Selain persoalan upah, sekitar 90 persen pekerja yang berstatus karyawan tetap juga menghadapi ancaman PHK massal sejak Mei 2026. Kondisi tersebut semakin pelik setelah terjadi perombakan manajemen secara sepihak pada 5 Agustus 2026.
Sebelumnya, persoalan tunggakan upah PT Ghim Li Indonesia dibahas dalam rapat dengar pendapat di Kantor DPRD Kota Batam pada Jumat (11/9/2026). Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa Ghim Li Singapura ditargetkan melunasi gaji pekerja pada Kamis mendatang.
Meski demikian, para buruh memilih tetap bertahan di tenda hingga ada kepastian hukum dan realisasi pembayaran gaji.
Mereka kini menunggu agenda pertemuan bipartit antara pihak manajemen dan perwakilan serikat pekerja SPAI FSPMI. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi jalan keluar atas persoalan yang telah berlarut.
"Kami berharap agar pertemuan tersebut bisa membuahkan hasil maksimal dan hak-hak kami bisa diambil kembali," kata Andi.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen PT Ghim Li Indonesia belum memberikan keterangan resmi mengenai aksi penjagaan buruh maupun kepastian pembayaran tunggakan hak pekerja.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
