Sambil menyiapkan solusi jangka panjang, Pemko Batam memprioritaskan penanganan 18 stress area atau wilayah yang mengalami tekanan pelayanan air bersih.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni meningkatkan kapasitas instalasi pengolahan air di Dam Baloi dari 2 liter per detik menjadi 5 liter per detik. Pemko juga melanjutkan pembangunan jaringan pipa menuju Sengkuang.
Amsakar menyebut pipanisasi tersebut sebagai salah satu quick win pemerintah daerah untuk memperbaiki pelayanan air bersih.
Revitalisasi jaringan juga dilakukan secara bertahap, termasuk menyiapkan jalur alternatif menuju Muka Kuning. Jalur baru tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan apabila jaringan utama mengalami kebocoran.
"Pas bocor, saya bilang langsung saja coba disiapkan jalur alternatif baru dengan besaran pipa yang berbeda, ketebalan pipa yang berbeda. Mudah-mudahan jangka pemakaiannya jauh lebih lama," katanya.
Perbaikan pelayanan juga dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Batu Ampar, Bengkong dan Lubuk Baja. Sejumlah aspirasi warga di kawasan tersebut mulai ditindaklanjuti.
Salah satunya kawasan Putra Jaya, Batu Aji, yang sebelumnya mengalami persoalan distribusi air selama bertahun-tahun.
Menurut Amsakar, pelayanan di kawasan tersebut kini mulai membaik setelah dilakukan penanganan. Perbaikan juga terus dilakukan di Muka Kuning serta kawasan Batu Aji yang berbatasan dengan Marina.
"Di Marina itu juga alhamdulillah sudah mulai, tapi tetap tidak semua itu tuntas. Sungai Lekop masih berproses," ujarnya.
Penanganan Sungai Lekop masih berlangsung setelah Amsakar turun langsung menemui masyarakat. Ia menegaskan persoalan air bersih tidak harus seluruhnya selesai dalam satu periode pemerintahan.
Namun, pemerintah daerah tetap dituntut meningkatkan pelayanan sekaligus membangun tata kelola air yang lebih berkelanjutan.
"Janji politik kita bukan menyelesaikan persoalan sampai akhir periode. Janji politik kita meningkatkan pelayanan tata kelola air bersih," pungkasnya.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
