BATAM, iNewsBatam.id – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai digelar di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (27/10/2026). Operasi ini menyasar kawasan waduk dan daerah tangkapan air untuk membantu menambah cadangan air baku yang menyusut akibat minimnya curah hujan.
Prakirawan BMKG Batam, Pandie Made Rony, mengatakan penyemaian awan dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer. Tim terlebih dahulu mengidentifikasi awan yang berpotensi menghasilkan hujan sebelum menentukan lokasi penyemaian.
“Biasanya kita melihat awan-awan potensial dulu di hari itu. Ada atau tidak awan yang berpotensi untuk kita semai,” kata Pandie.
Dia menjelaskan, OMC tidak dapat menciptakan hujan tanpa dukungan awan yang sesuai. Penyemaian dilakukan untuk membantu proses pembentukan hujan pada awan yang memiliki kandungan uap air memadai.
“Targetnya supaya awan yang akan menghasilkan hujan itu jatuh di area yang kita tentukan atau kita inginkan,” ujarnya.
Dalam operasi kali ini, waduk menjadi sasaran utama karena berfungsi sebagai sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam. Hujan diharapkan turun di kawasan waduk dan daerah tangkapan air agar cadangan air dapat kembali meningkat.
“Dengan operasi ini kami berharap hujan dari awan yang memiliki potensi hujan bisa jatuhnya di situ (waduk), sehingga waduk-waduk kita nanti bisa terisi,” jelasnya.
Pandie mengatakan, secara teknis pelaksanaan OMC kali ini tidak jauh berbeda dari operasi sebelumnya. Fokusnya tetap mengoptimalkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan air.
“Target operasi yang dilakukan nanti tanggal 27 itu sama, yakni untuk mengisi kembali waduk-waduk kita yang kosong sehingga kebutuhan air di Batam bisa terpenuhi lagi,” katanya.
Dalam proses penyemaian, tim menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam dengan ukuran partikel sangat halus. Material yang digunakan disebut memenuhi standar food grade.
“Garamnya NaCl, sama seperti garam dapur yang biasa kita pakai di rumah, cuma bedanya lebih halus,” ujar Pandie.
Kebutuhan material untuk satu kali penyemaian umumnya mencapai sekitar 200 kilogram. Namun, jumlah tersebut dapat berubah sesuai kondisi awan dan kebutuhan teknis selama operasi berlangsung.
“Umumnya sekitar 200 kilogram sekali semai. Tapi itu tergantung kebutuhan kegiatan. Kalau tim teknis melihat membutuhkan lebih banyak, kuantitasnya bisa ditambah,” katanya.
Terkait keamanan air hujan hasil OMC, Pandie menjelaskan material yang digunakan berupa NaCl food grade. Menurut dia, konsentrasi material tersebut dalam air hujan sangat kecil.
Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman, mengatakan pengaruh El Niño di Indonesia mulai berkurang. Hujan juga mulai turun di sejumlah wilayah, termasuk Batam.
“Pengaruh El Niño-nya juga sudah berkurang dan hujannya sudah mulai masuk. Karena memang Oktober itu sebenarnya sudah masuk musim hujan untuk wilayah Batam,” kata Suratman.
Meski hujan mulai turun, pemulihan cadangan air waduk masih menjadi perhatian. Curah hujan belum tentu merata dan mencukupi untuk mengembalikan volume air waduk yang telah menyusut.
Suratman menegaskan, OMC bukan bertujuan menciptakan hujan, melainkan mengoptimalkan potensi awan agar hujan dapat turun di lokasi sasaran.
“OMC itu bukan untuk membuat hujan. Dia memodifikasi supaya hujannya turun di satu titik. Karena tujuannya untuk mengisi waduk,” katanya.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
