Hujan Sedikit Banjir, Kemarau Kekeringan: Aktivis Kritik Keras Tata Kelola Lingkungan Batam
BATAM, iNewsBatam.id – Banjir yang kembali terjadi di sejumlah wilayah Kota Batam saat hujan deras menuai sorotan dari kalangan pemerhati lingkungan.
Kondisi tersebut dinilai menjadi indikator adanya persoalan serius dalam tata kelola lingkungan dan pembangunan yang berlangsung di kota industri tersebut.
Founder NGO Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menilai banjir yang berulang setiap musim hujan tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan tingginya curah hujan.
Menurutnya, persoalan itu merupakan dampak dari perubahan tata ruang dan berkurangnya daya dukung lingkungan akibat masifnya pembangunan.
“Hujan sedikit banjir, kemarau sebentar masyarakat kekeringan. Ini menunjukkan ada persoalan serius dalam pengelolaan kota,” kata Hendrik, Kamis (11/6/2026).
Ia mencontohkan genangan yang sempat melumpuhkan arus lalu lintas di Jalan R Suprapto, tepatnya di depan kawasan Villa Panbil, beberapa hari lalu. Genangan di ruas jalan utama tersebut menyebabkan kendaraan kesulitan melintas dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut Hendrik, kejadian tersebut merupakan akumulasi dari berbagai persoalan lingkungan yang selama ini belum tertangani secara menyeluruh.
Ia menyoroti maraknya pembukaan lahan di berbagai kawasan Batam, mulai dari wilayah perbukitan, hutan rawa hingga kawasan pesisir yang direklamasi untuk kepentingan pembangunan.
“Saat ini banyak pembukaan lahan terus terjadi. Bukit digunduli, hutan rawa ditimbun, bahkan laut direklamasi. Daerah tangkapan air juga mulai berkurang. Jika kondisi ini terus dibiarkan, potensi banjir akan semakin besar,” ujarnya.
Selain alih fungsi lahan, Hendrik menilai sistem drainase di sejumlah kawasan belum mampu mengimbangi laju pembangunan. Kapasitas saluran yang terbatas membuat air hujan tidak dapat mengalir secara optimal saat curah hujan tinggi.
Ia juga menilai genangan yang terjadi di kawasan Panbil cukup mengkhawatirkan karena lokasi tersebut berada di area menurun dan berdekatan dengan kawasan dam yang seharusnya membantu mengatur aliran air.
Menurutnya, pelepasan kawasan hutan dan aktivitas reklamasi yang terus berlangsung turut mengurangi kemampuan lingkungan dalam menyerap air hujan serta mempersempit jalur aliran menuju laut.
“Pemerintah harus bergerak cepat. Jika persoalan lingkungan ini tidak dibenahi dari sekarang, dampaknya akan semakin besar seiring meningkatnya pembangunan dan berkurangnya ruang terbuka hijau,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan pihaknya telah melakukan sejumlah langkah penanganan untuk mengurangi genangan yang terjadi di beberapa titik jalan.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat lubang pembuangan air dari badan jalan menuju saluran drainase agar aliran air lebih lancar saat hujan deras.
“Kami sedang melakukan pembuatan lubang pembuangan air dari badan jalan ke saluran drainase,” ujar Mouris.
Ia menegaskan kondisi yang terjadi di sejumlah lokasi lebih tepat disebut sebagai genangan air, bukan banjir. Menurutnya, genangan muncul akibat terbatasnya akses pembuangan air dari permukaan jalan menuju sistem drainase yang ada.
“Di Batam tidak ada banjir. Yang terjadi adalah genangan karena kurangnya lubang pembuangan air dari badan jalan ke saluran drainase,” katanya.
Editor: Gusti Yennosa