Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Alfi Ramadania Kembali Pimpin Peradi SAI Batam, Tekankan Marwah Advokat
Advertisement . Scroll to see content

Kemenangan Abdul El-Sayed di Senat AS Buka Peluang Politik Inklusif

Sabtu, 07 November 2026 | 15:31 WIB
  • author S. Widodo
Kemenangan Abdul El-Sayed di Senat AS Buka Peluang Politik Inklusif
Abdul El Sayed mencetak sejarah sebagai Muslim pertama yang menduduki kursi Senat AS (Foto: Anadolu)

KUALA LUMPUR, iNewsBatam.id – Kemenangan Abdul El-Sayed dalam pemilihan Senat Amerika Serikat (AS) dari Michigan dinilai menjadi sinyal perubahan lanskap politik global.

Hasil tersebut menunjukkan peluang bagi pemimpin dari kelompok minoritas untuk mendapat kepercayaan di tengah masyarakat yang beragam.

Pandangan itu disampaikan Ketua Institut Pengajian Islam Lanjutan Antarabangsa (IAIS) Malaysia, Dr Maszlee Malik. Menurutnya, kemenangan El-Sayed bukan sekadar keberhasilan seorang kandidat Muslim, tetapi juga mencerminkan terbukanya ruang bagi kepemimpinan yang lebih inklusif dalam tatanan dunia multipolar.

El-Sayed berhasil mengungguli kandidat Partai Republik, Mike Rogers, berdasarkan proyeksi hasil pemilihan yang dilaporkan pada 4 November 2026. Kemenangan itu sekaligus menjadikannya Muslim pertama yang terpilih sebagai anggota Senat AS.

Maszlee mengatakan, keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa kandidat dari kelompok minoritas tetap memiliki peluang membangun kepercayaan pemilih, meskipun menghadapi sentimen politik yang membawa isu agama dan identitas.

“Jika kita merayakannya semata-mata sebagai kemenangan orang Islam, kita mungkin melewatkan pelajaran politik yang lebih besar,” kata Maszlee dalam analisis berjudul El-Sayed and the Politics of the Future Multipolar World, dilansir Bernama.

Dia menilai, salah satu hal penting dari kampanye El-Sayed adalah kemampuannya menggabungkan persoalan domestik dengan isu moral internasional.

Selama kampanye, El-Sayed mengusung agenda layanan kesehatan universal, reformasi pendanaan pemilu, serta kritik terhadap kebijakan AS terkait Israel.

Isu-isu tersebut dinilai menyentuh kebutuhan sehari-hari masyarakat sekaligus membuka ruang pembahasan mengenai posisi AS dalam persoalan global.

Maszlee juga menyoroti bagaimana identitas digunakan dalam politik. Menurutnya, identitas seharusnya menjadi landasan membangun tanggung jawab bersama, bukan justru dimanfaatkan untuk menggambarkan kelompok lain sebagai ancaman.

Kemenangan El-Sayed turut membuka ruang untuk membaca perubahan aspirasi generasi muda. Keresahan ekonomi, menurut Maszlee, semakin berkaitan dengan tuntutan atas keadilan dan penghormatan terhadap martabat masyarakat.

Meski demikian, dia mengingatkan agar kemenangan tersebut tidak buru-buru disebut sebagai gelombang politik Gen Z. Kesimpulan itu membutuhkan kajian lebih lanjut mengenai pola pilihan pemilih berdasarkan kelompok usia.

Dalam konteks dunia multipolar, Maszlee berpandangan bahwa perubahan tatanan internasional tidak hanya ditentukan persaingan kekuatan besar seperti Washington dan Beijing.

Dinamika politik dalam negeri, gerakan masyarakat sipil, pemilihan umum, serta tekanan publik juga berperan membentuk arah politik global.

Dia menilai kehadiran senator dengan pandangan berbeda dapat memperluas perdebatan mengenai Palestina serta penggunaan kekuatan ekonomi dan militer AS.

Namun, Maszlee mengingatkan bahwa seorang senator tidak bisa mengubah keseluruhan kebijakan luar negeri negaranya seorang diri.

Maszlee menyebut ada sejumlah pelajaran yang dapat dipetik Malaysia dari kemenangan El-Sayed. Pertama, nilai-nilai politik harus diterjemahkan menjadi solusi konkret bagi masyarakat.

Kedua, generasi muda perlu diberi ruang partisipasi yang nyata. Ketiga, kebijakan kesejahteraan harus menjangkau berbagai kelompok masyarakat. Keempat, politik perlu menjauhi sikap arogan dan merasa paling benar.

Menurutnya, memperjuangkan kepentingan satu komunitas tidak harus mengorbankan hak komunitas lainnya.

Kepercayaan publik justru tumbuh ketika pemimpin menunjukkan komitmen terhadap keadilan tanpa membedakan latar belakang pihak yang membutuhkan perlindungan.

 

Meski demikian, Maszlee menegaskan pengalaman politik Michigan tidak bisa diterapkan begitu saja di Malaysia. Perbedaan sejarah, konstitusi, dan struktur masyarakat membuat setiap negara memiliki konteks tersendiri.

Dia menilai latar belakang seseorang tidak semestinya membatasi kapasitasnya untuk memimpin masyarakat yang majemuk.

Tantangan berikutnya bagi El-Sayed adalah membuktikan kepercayaan pemilih melalui pelayanan publik, kebijakan yang nyata, serta keberanian dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan.

Editor: Gusti Yennosa

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut