Titik Nol Tanjungpinang, Sejarah Awal Peradaban Kota Gurindam

Endra Kaputra
Titik nol Kota Tanjungpinang di pinggir laut yang memiliki nilai sejarah tinggi. (Foto: Endra Kaputra/iNews.id)

TANJUNGPINANG, iNewsBatam.id -  Bila Anda berkunjung ke Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, bisa melalui Pelabuhan Sri Bintan Pura.

Seratus meter dari pintu keluar pelabuhan, tepatnya di pojok perempatan bahu jalan depan Gedung Daerah, Anda akan melihat sebuah tugu kecil.

Terlihat interior berbentuk hati berwarna merah dengan tulisan ‘Pesona Tanjungpinang’.

Di atas ada pelang bentuk persegi panjang bertuliskan KM (BATU) 0 Tanjungpinang.

Tugu itu warnanya kuning, dengan lis hitam sedikit di bagian bawah.

Pada sisi bagian atas tengah, terdapat tulisan TPI O, kanan TUB 89, dan di kiri KJG 27. Penjelasannya, Anda berada di titik nol Tanjungpinang dan 89 kilometer menuju Tanjunguban serta 27 kilometer menuju Kijang di Kabupaten Bintan.

Tak jarang, tugu itu menjadi lokasi warga maupun wisatawan bersuafoto.

Dari titik nol itulah awal mulanya sebuah Kota yang bernama Tanjungpinang saat ini.

Dari wikipedia, Tanjungpinang merupakan bagian dari Kerjaan Malaka.

Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan kesultanan Malaka.

Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda setelah mereka menundukan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa Hindia Belanda, Tanjungpinang merupakan pusat pemerintahan Karesidenan Riouw. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Provinsi Riau pada 1957.

Dari sekitaran tugu titik nol itu, peninggalan sejarah itu masih ada. Yaitu, Gedung Daerah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri).Lokasinya hanya sepelemparan batu .

Gedung itu dibangun pada 1880, dan difungsikan sebagai bangunan Residen Belanda di masa lalu.

Arsitektur bangunannya terbilang unik, seakan perpaduan gaya antara bangunan Romawi dan Yunani. Bangunannya didominasi warna putih.


Di masa lalu, setelah Kemerdekaan Republik Indonesia pada 1950, gedung ini diserahkan Residen Belanda kepada Indonesia.

Saat itu Residennya bernama Dr. Waardenburg.

Sebagai catatan sejarah, Gedung Daerah itu juga pernah menjadi kantor pusat pemerintahan Gubernur Riau yang pertama bernama, S.M. Amin Nasution. Itu sebelum pusat pemerintahan Provinsi Riau dipindahkan ke Pekanbaru, dua tahun kemudian. 

Setelah itu, status Tanjungpinang kembali berubah menjadi Kota Administratif hingga tahun 2000.

Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2001, pada tanggal 21 Juni 2001 statusnya ditingkatkan menjadi Kota Tanjungpinang.

Pusat pemerintahan yang semula berada di pusat Kota Tanjungpinang, kemudian dipindahkan ke Senggarang (bagian utara kota).

Hal ini bertujuan untuk pemerataan pembangunan serta mengurangi kepadatan penduduk yang selama ini berpusat di Kota Lama (bagian barat kota).

Pada tahun 2002, Kota Tanjungpinang kembali menjadi ibu kota provinsi, yakni Provinsi Kepri.


Berjalan dari titik nol ke jalan Merdeka yang disebut Kota Tua, terdapat bangunan ruko tempo dulu yang kini telah direvitalisasi dengan warna warni.

Dari kawasan Kota Tua, berjalan satu arah sekitar kurang lebih 200 meter, juga ada tempat ibadah peningalan sejarah dengan sebutan 'Gereja Ayam'.

Lokasinya berada di Jalan Gereja, Nomor 1, Kecamatan Tanjungpinang Kota. Posisinya tepat di samping KFC.

Tempat ibadah umat Kristiani ini dibangun pada tahun 1883.

Gereja Ayam GPIB Bethel Tanjungpinang termasuk salah satu bangunan peninggalan pemerintah Belanda yang masih dapat dilihat hingga saat ini.

Bila dari depan Geraja memandang ke sebelah kiri, terlihat satu peninggalan tempat ibadah umat muslim. Namanya, Masjid Al-Hikmah yang statusnya kini menjadi Masjid Agung. Dulunya masjid tersebut bernama Masjid Keling.

Masjid Keling itu diperkirakan dibangun abad ke-19. Saat pendeta (misionaris) Eberhard Rottmann Rottge dari Belanda datang ke Tanjungpinang tahun 1834menggantikan Pendeta Dirk Lenting, ia sudah melihat keberadaan Masjid Keling ini.

Sejarah keberadaan Masjid keling ini erat kaitannya dengan komunitas perantau dari Anak Benua India ( India Subcantinetnt ) di Tanjungpinang.

Mereka terdiri dari orang Keling, Coromandel, Benggali atau Bengal, Bombai dan Sikh.



Editor : Gusti Yennosa

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network