BATAM, iNewsBatam.id - Kualitas udara di Batam, Kepulauan Riau, kembali menjadi perhatian. Pemantauan IQAir pada Senin (14/9/2026) pagi menunjukkan indeks kualitas udara berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Data IQAir pada pukul 07.00 waktu setempat mencatat AQI⁺ US Batam berada di angka 110. Konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai 39,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Kondisi tersebut muncul di tengah perhatian terhadap kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan dalam beberapa waktu terakhir.
Partikel PM2.5 menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kualitas udara. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel ini mudah terhirup dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Data IQAir juga menunjukkan kualitas udara Batam diperkirakan masih berada di level yang perlu diperhatikan pada beberapa jam berikutnya.
Pada pukul 08.00, indeks tercatat 110, kemudian 111 pada pukul 09.00 dan 10.00. Angka itu meningkat menjadi 112 pada pukul 12.00 sebelum mencapai 113 sekitar pukul 13.00.
Meski demikian, kualitas udara tidak selalu disebabkan oleh satu sumber polusi. PM2.5 di wilayah perkotaan dapat berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, pembakaran, hingga asap kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, kondisi udara Batam perlu dibaca bersama perkembangan titik panas dan arah angin. Kabut asap dari wilayah lain dapat terbawa angin, tetapi keberadaan titik panas tidak otomatis berarti asap dari titik tersebut sedang mencapai Batam.
Sebelumnya, kualitas udara Batam juga sempat memburuk ketika kabut asap melanda sejumlah wilayah. Pemantauan sepanjang Agustus hingga awal September 2026 menunjukkan konsentrasi PM2.5 Batam berada di atas pedoman harian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Data yang dikutip Katadata dari pemantauan IQAir menunjukkan konsentrasi PM2.5 Batam rata-rata mencapai 30,3 µg/m³ pada periode 9 Agustus hingga 6 September 2026. Bahkan, seluruh 29 hari pengamatan dalam periode tersebut berada di atas pedoman WHO sebesar 15 µg/m³.
Konsentrasi tertinggi dalam periode tersebut mencapai 53 µg/m³ pada 4 September. Angka itu kemudian turun menjadi 36 µg/m³ pada 5 September dan kembali meningkat menjadi 47 µg/m³ pada 6 September.
Kondisi tersebut terjadi setelah kebakaran lahan di kawasan Trans Barelang pada Agustus. Kebakaran itu dilaporkan menghanguskan sekitar 20 hingga 35 hektare lahan.
Di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya stabil, masyarakat Batam terutama kelompok sensitif perlu lebih memperhatikan aktivitas di luar ruangan.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Masyarakat juga disarankan memantau indeks kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dan pengurangan aktivitas fisik berat di luar ruangan dapat dipertimbangkan ketika kualitas udara memburuk.
Dengan munculnya kembali sorotan terhadap kabut asap, pemantauan kualitas udara menjadi penting. Angka AQI dan PM2.5 dapat berubah sepanjang hari mengikuti kondisi cuaca, angin, serta sumber polusi di sekitar Batam.
Untuk saat ini, data IQAir menunjukkan udara Batam berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Kondisi tersebut menjadi pengingat agar perkembangan kabut asap dan kualitas udara terus dipantau.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
