get app
inews
Aa Text
Read Next : Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri Persemayaman Mantan Menhan Ryamizard Ryacudu Pagi Ini

Di Ujung Negeri, Pasien Ditandu Meniti Pelantar Rusak pada Hari Lahir Pancasila

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:04 WIB
header img
Warga menandu seorang pasien melewati pelantar kayu yang rusak parah di Gang Nelayan, Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan, Kabupaten Natuna. (Foto: Alfie/iNews.id)

NATUNA, iNewsBatam.id – Di saat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila, sekelompok warga di perbatasan negeri justru menghadapi kenyataan yang jauh dari cita-cita pemerataan pembangunan.

Senin (1/6/2026), beberapa warga Gang Nelayan, Kampung Air Raya, Kelurahan Serasan, Kabupaten Natuna, harus menandu seorang pasien melewati pelantar kayu yang nyaris ambruk demi mendapatkan akses pengobatan.

Langkah mereka tampak perlahan dan penuh kehati-hatian. Sebuah tandu berisi warga yang sakit digotong melintasi jalur sempit yang hanya tersisa tiga batang kayu untuk berpijak. Di bawahnya, hamparan laut menganga, siap menelan siapa saja yang kehilangan keseimbangan.

Pemandangan tersebut bukan terjadi akibat bencana alam atau keadaan darurat yang tidak terduga. Kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun karena pelantar yang menjadi satu-satunya akses keluar-masuk permukiman warga mengalami kerusakan parah.

Sepanjang sekitar 100 meter, bagian pelantar yang rusak hanya menyisakan papan-papan rapuh yang semakin lapuk dimakan usia.

Bahkan untuk berjalan seorang diri, warga harus ekstra hati-hati. Apalagi saat membawa pasien yang membutuhkan pertolongan.

Ironisnya, peristiwa itu terjadi tepat pada momentum Hari Lahir Pancasila. Saat sebagian masyarakat berbicara tentang keadilan sosial dan pemerataan pembangunan, warga di wilayah perbatasan masih harus mempertaruhkan keselamatan demi memperoleh layanan dasar seperti kesehatan.

Ketua RT 01 Kampung Air Raya, Urai Pirdaus atau yang akrab disapa Padil, mengaku sedih melihat kondisi tersebut.

Ia menyaksikan langsung bagaimana warga kesulitan membawa pasien karena pelantar tidak memungkinkan banyak orang berjalan bersamaan.

"Dari video yang beredar terlihat hanya dua orang yang bisa berjalan berdampingan. Kalau terlalu banyak orang naik, risikonya semakin besar," ujarnya.

Menurut Padil, pelantar tersebut pertama kali dibangun pada 2007 dan hingga kini menjadi urat nadi bagi warga setempat. Namun seiring waktu, kondisinya terus memburuk.

"Pelantar rakyat kami ini sudah parah. Pemerintah setempat sudah tahu, tetapi mereka juga menunggu anggaran dari kabupaten yang tak kunjung datang. Setiap tahun kami memperbaikinya dengan dana pribadi, ada juga warga yang menyumbang sedikit. Tapi paling bertahan satu tahun saja," katanya.

Ia menjelaskan, total panjang pelantar mencapai sekitar 300 meter. Sebagian sepanjang 200 meter telah dibangun pada masa pemerintahan Bupati Natuna sebelumnya.

Namun bagian ujung pelantar yang menghubungkan rumah-rumah warga kini menjadi titik kerusakan paling parah.

Padil mengatakan, persoalan tersebut sudah berulang kali disampaikan melalui berbagai forum perencanaan pembangunan.

Bahkan usulan perbaikan telah masuk prioritas Musrenbang tingkat kelurahan selama kurang lebih lima tahun terakhir.

"Sudah lima tahun diajukan terus, tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya," ungkapnya.

Di balik pelantar yang rapuh itu, terdapat kehidupan puluhan keluarga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut.

Sebanyak 27 kepala keluarga atau sekitar 96 jiwa tinggal di Gang Nelayan dan menggunakan pelantar itu untuk bekerja, bersekolah, berobat, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga, kerusakan pelantar bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur. Setiap papan yang lapuk menyimpan risiko keselamatan yang harus mereka hadapi setiap hari.

Dan pada Hari Lahir Pancasila tahun ini, pelantar tua di ujung negeri itu seakan menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang menunggu hadirnya keadilan sosial dalam bentuk yang paling sederhana: jalan yang aman untuk dilalui.

Editor : Gusti Yennosa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut