Program SMK Go Global Batam Buka Jalan PMI Kerja Legal ke Luar Negeri
BATAM, iNewsBatam.id - Program SMK Go Global resmi dimulai di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Sebanyak 20 calon pekerja migran Indonesia (PMI) mengikuti pelatihan perdana untuk meningkatkan kompetensi sebelum bekerja di luar negeri melalui jalur legal dan prosedural.
Pelatihan perdana tersebut digelar di BTP Batam, Rabu (26/8/2026).
Kepala BP3MI Batam Kombes Pol Imam Riyadi mengatakan program tersebut merupakan bagian dari program nasional pemerintah untuk menyiapkan calon PMI agar memiliki keterampilan dan sertifikasi yang dibutuhkan dunia kerja internasional.
"Untuk total keseluruhan di seluruh Indonesia, ada 167 kelas dengan total 340 peserta calon pekerja migran," kata Imam seusai kegiatan kick off SMK Go Global di Batam.
Khusus Kepri, BP3MI Batam memulai program dengan 20 peserta. Jumlah tersebut akan ditambah melalui dua kelas berikutnya dengan total sekitar 40 peserta.
Imam mengatakan seluruh biaya pelatihan ditanggung negara. Peserta juga mendapatkan fasilitas asrama, konsumsi hingga uang saku selama mengikuti program.
Tak hanya pelatihan, peserta akan memperoleh sertifikasi kompetensi secara gratis setelah menyelesaikan seluruh tahapan.
Program tersebut dirancang agar peserta memiliki bekal yang cukup hingga siap ditempatkan sebagai PMI secara legal.
Untuk angkatan pertama di Kepri, peserta mendapatkan pelatihan housekeeping dan waiter. Setelah menyelesaikan pelatihan dan sertifikasi, mereka diproyeksikan bekerja di Turki berdasarkan job order yang telah tersedia.
"Di Kepri ini untuk pelatihan pada siang hari ini di bidang housekeeping dan waiter. Nanti 20 orang ini akan kita berangkatkan sesuai dengan job order yang sudah ada, yaitu ke negara Turki," ujarnya.
Tak Harus Lulusan SMK
Meski bernama SMK Go Global, program tersebut tidak hanya terbuka bagi lulusan sekolah menengah kejuruan.
Imam mengatakan peserta pelatihan perdana di Batam memiliki latar belakang pendidikan yang beragam, termasuk lulusan sekolah agama.
"Artinya mereka bisa. Jadi tidak harus SMK, SMA pun bisa. Sehingga ketika nanti kami lakukan pelatihan, mereka memiliki sertifikasi dan bisa kita berangkatkan secara legal dan prosedural," katanya.
Dalam pelaksanaannya, BP3MI menggunakan dua skema, yakni swakelola tipe II yang melibatkan sekolah pemerintah dan tipe III dengan menggandeng sekolah vokasi swasta.
Untuk pelatihan housekeeping dan waiter yang memiliki job order ke Turki, program dijalankan melalui lembaga pendidikan vokasi swasta dalam skema tipe III.
Sementara dua kelas berikutnya akan diselenggarakan melalui Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang berada di Kepri.
Program SMK Go Global tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah yang ditargetkan terus berjalan hingga 2029.
Imam mengatakan program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya BP3MI membangun ekosistem tata kelola penempatan dan perlindungan PMI di Kepri.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak, termasuk media, diperlukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi.
"Artinya, ekosistem ini memang selama ini juga kita bangun, termasuk dari rekan-rekan pers yang mampu memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa pekerjaan memang harus secara legal dan prosedural," ujarnya.
Ia menyebut upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. BP3MI Batam mencatat sebanyak 3.095 PMI telah diberangkatkan secara legal dan prosedural sepanjang 2026.
Khusus warga Kepri, jumlah PMI yang telah ditempatkan bekerja di luar negeri mencapai lebih dari 2.000 orang. Mereka tersebar di sejumlah negara, termasuk Singapura dan Rusia.
"Alhamdulillah di tahun ini saya cukup senang dan bangga. Berkat kerja sama dengan semua stakeholder dan teman-teman pers, kita tahun ini bisa membalikkan stigma yang selama ini terkait perlintasan TPPO menjadi positif," kata Imam.
Editor : Gusti Yennosa