Tinta Cina dan Ranting Jadi Medium Kreatif di Festival Media Selat Malaka 2026
BATAM, iNewsBatam.id - Ranting yang biasa ditemukan di sekitar lingkungan sehari-hari berubah menjadi alat untuk membuat karya seni dalam workshop yang digelar Komunitas Gelak Garis di Festival Media Selat Malaka 2026.
Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan bertajuk “Eksplorasi Tinta dan Garis” di Auditorium Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026). Mereka diajak mencoba membuat sketsa menggunakan tinta Cina dan ranting sebagai medium utama.
Ketua Komunitas Gelak Garis Radhix A.W. mengatakan, pemilihan ranting bukan tanpa alasan. Setiap ranting memiliki karakter berbeda, terutama dalam menyerap tinta dan menghasilkan goresan.
“Ranting memiliki banyak karakter dan sifat yang berbeda-beda. Paling baik adalah ranting yang mampu menyerap tinta yang banyak ketika ingin melakukan sketsa,” ujar Radhix, Selasa (22/9/2026).
Teknik yang digunakan dalam workshop tersebut cukup sederhana. Ranting dicelupkan ke tinta Cina, kemudian digoreskan di atas kertas untuk membentuk garis dan sketsa.
Peserta juga dapat mencampurkan air untuk mengurangi kadar tinta. Teknik itu menghasilkan warna yang lebih transparan sekaligus memberikan dimensi berbeda pada gambar.
Eksplorasi peserta tidak berhenti pada penggunaan ranting. Sejumlah peserta bahkan mencoba tusuk sate sebagai alat untuk menghasilkan goresan.
Menurut Radhix, penggunaan alat sederhana tersebut menjadi bagian dari proses belajar untuk beradaptasi dengan keterbatasan medium. Perupa tidak harus bergantung pada alat khusus untuk menghasilkan sebuah karya.
“Jangan takut melakukan kesalahan. Kesalahan adalah sesuatu yang mahal, karena tidak bisa diulang, tidak bisa direplikasi, sehingga menghasilkan ciri khas tersendiri,” katanya.
Selain workshop, Komunitas Gelak Garis menghadirkan live painting yang dikerjakan secara kolaboratif oleh sejumlah seniman selama pelaksanaan Festival Media Selat Malaka 2026.
Sekretaris Gelak Garis Hening Sekar Utami mengatakan, karya kolaboratif tersebut dikerjakan selama dua hari di Politeknik Negeri Batam.
Menurut Hening, karya tersebut mengangkat isu kemerdekaan pers. Proses pembuatannya juga memberikan ruang bagi setiap seniman untuk berekspresi tanpa dibatasi pakem komposisi maupun teknik tertentu.
“Karya ini bicara tentang kemerdekaan pers, serta proses pembuatannya juga memberikan kemerdekaan artistik kepada setiap seniman. Kita tidak memikirkan tentang komposisi dan teknis, kita memerdekakan ide,” ujar Hening.
Ia mengatakan, gagasan lukisan berangkat dari arus informasi yang terus bergerak. Berbagai peristiwa, suara korban, hingga persoalan hak asasi manusia dapat muncul dalam arus informasi, tetapi kemudian dengan cepat tergeser oleh informasi lainnya.
“Keadilan tidak dapat di-scroll. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat, mendengar, dan terus mengingat,” katanya.
Dalam karya tersebut, setiap seniman tetap mempertahankan bahasa visual masing-masing. Perbedaan gaya kemudian dipertemukan dalam satu karya yang membawa gagasan tentang kemerdekaan pers.
“Setiap seniman hadir dengan bahasa visualnya sendiri, bertemu dalam satu gagasan,” ujar Hening.
Editor: Gusti Yennosa