Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Guru PG Djuwita Batam Mengaku Ditekan Penyidik, Ombudsman: Laporkan ke Propam
Advertisement . Scroll to see content

Sejumlah Wali Murid PG Djuwita Batam Bela Dua Guru yang Jadi Tersangka Kekerasan Anak

Jum'at, 06 November 2026 | 12:43 WIB
  • author Alfie Al Rasyid
Sejumlah Wali Murid PG Djuwita Batam Bela Dua Guru yang Jadi Tersangka Kekerasan Anak
Para wali murid saat menjemput anaknya di Sekolah Playgroup Djuwita Batam. (Foto: Alfie/iNews.id)

Pengalaman serupa disampaikan Gita, wali murid lainnya. Anaknya telah mengikuti pembelajaran bersama Fitri sejak level A hingga level B.

Gita mengaku tidak percaya dengan pemberitaan yang menyebut guru tersebut terlibat dalam dugaan kekerasan terhadap anak.

Menurutnya, Fitri merupakan guru yang tegas dalam mendidik, tetapi tidak kasar. Bahkan, dia pernah meminta agar anaknya lebih didisiplinkan karena memiliki karakter yang terkadang sulit diatur.

"Miss Vivi memang guru yang tegas, tetapi tidak kasar. Saya bahkan pernah berpesan agar anak saya lebih ditegaskan lagi karena saya tahu karakternya terkadang sulit diatur, meskipun usianya saat itu masih dua tahun," ungkap Gita.

Gita menjelaskan, pihak sekolah memberikan kesempatan kepada orang tua untuk melihat langsung aktivitas belajar mengajar di dalam kelas.

Karena itu, dia menilai pendekatan yang diterapkan Fitri merupakan bagian dari upaya mendisiplinkan dan membentuk karakter anak.

Dia bahkan mengaku pernah meminta Fitri tidak ragu menegur anaknya apabila melakukan kesalahan. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab mendidik anak, termasuk mengajarkan kedisiplinan, bukan sekadar memenuhi semua keinginan murid.

Gita juga menceritakan perkembangan anaknya sejak pertama kali masuk sekolah. Ketika masih berada di level A, anaknya kerap menangis, tidak mau duduk di kelas, bahkan mengalami tantrum hingga berteriak.

"Usianya bahkan belum genap tiga tahun, tetapi sudah terbiasa mengucapkan say sorry dan say thank you. Saya melihat sendiri, tanpa harus diminta, dia sudah bisa mengatakan, 'Sorry, Mama', 'I'm sorry', dan 'Terima kasih', sesuai dengan yang diajarkan guru-gurunya," jelasnya.

Kedekatan anaknya dengan Fitri juga terlihat ketika guru tersebut tidak masuk sekolah. Gita menyebut anaknya kerap mencari dan menanyakan keberadaan Fitri, bahkan menyebut nama guru tersebut ketika sedang dimarahi di rumah.

"Ketika Miss Vivi tidak ada, anak saya selalu mencari dan bertanya, 'Miss Vivi mana?' Menurut saya, anak-anak tidak bisa berbohong soal kenyamanan mereka dengan seseorang," tuturnya.

Gita berharap proses hukum yang menjerat kedua guru tersebut dapat berjalan secara adil dan memberikan kepastian bagi semua pihak.

Dia juga khawatir perkara ini menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat untuk berprofesi sebagai guru, terutama ketika harus menjalankan tugas mendisiplinkan anak didik.

"Jangan sampai kejadian seperti ini membuat orang takut menjadi guru karena sedikit-sedikit dilaporkan ke polisi, padahal guru juga memiliki tanggung jawab mendisiplinkan anak didiknya," ujarnya.

Dia mengaku hingga kini belum pernah dimintai keterangan ataupun diminta memberikan testimoni oleh penyidik terkait perkara tersebut.

Pengalamannya selama ini hanya sebatas berdiskusi dengan sesama orang tua murid yang sebagian juga menyampaikan pengalaman positif bersama para guru.

"Tidak pernah. Sejauh ini tidak ada yang meminta testimoni atau keterangan kepada saya sebagai wali murid," katanya.

Editor: Gusti Yennosa

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut