Asuar (42) juga merasakan hal serupa. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengenang orang tuanya saat berziarah.
“Lebaran tanpa mereka terasa berbeda, tetapi dengan ziarah ini, kami bisa sedikit melepas rindu dan tetap merasa terhubung,” ungkapnya.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh warga setempat, tetapi juga oleh para perantau yang pulang kampung. Bagi mereka, ziarah kubur menjadi wujud bakti dan penghormatan kepada keluarga yang telah tiada, serta cara untuk tetap menjaga akar budaya mereka.
Lebih dari sekadar ritual, ziarah kubur di Hari Raya Idulfitri di Lingga adalah bentuk nyata penghormatan, penguatan silaturahmi, dan pengingat bahwa nilai-nilai kekeluargaan tetap abadi di tengah perubahan zaman.
Editor : S. Widodo
Artikel Terkait