BATAM, iNewsBatam.id - Gereja Katolik melalui Caritas Indonesia bersama Komisi Keadilan dan Perdamaian Pastoral Migran dan Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang resmi meluncurkan Sentrum Caritas di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (29/5/2026).
Fasilitas ini bakal difungsikan sebagai Balai Latihan Kerja dan Pusat Informasi Migran (BLK-PIM) demi mendorong migrasi yang aman sekaligus menekan angka Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Gedung yang dibangun satu kompleks dengan Shelter Migran St. Theresia Batam ini diresmikan langsung oleh Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC. Agenda krusial ini dihadiri sekitar 150 peserta, termasuk enam uskup, perwakilan unsur pemerintah, jaringan Caritas Internasional, serta aktivis kemanusiaan.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, RD Fredy Rante Taruk, mengungkapkan bahwa pemilihan Batam sebagai lokasi Sentrum Caritas tidak lepas dari posisi strategis kota ini yang kerap menjadi wilayah transit utama para Pekerja Migran Indonesia (PMI).
"Batam dikenal sebagai pusat lalu lintas dan tempat transit bagi para migran, baik yang memiliki dokumen lengkap maupun yang tidak berdokumen. Atas dasar itulah, Batam dipilih sebagai lokasi berdirinya Sentrum Caritas," ujar Romo Fredy.
Bukan tanpa alasan isu ini menjadi atensi serius. Caritas Indonesia membeberkan data sepanjang tahun 2025, di mana Kantor Imigrasi Batam mencatat ada 5.659 penundaan keberangkatan di berbagai pintu keluar pelabuhan internasional.
Ribuan penundaan tersebut mayoritas dipicu oleh ketidaklengkapan dokumen, yang menjadi indikasi kuat adanya upaya pemberangkatan PMI non-prosedural alias ilegal yang mengarah pada sindikat TPPO.
Romo Fredy menegaskan, langkah nyata ini merupakan wujud kepedulian mendalam Gereja Katolik global terhadap nasib kaum papa dan para korban perdagangan manusia.
"Sejak masa kepemimpinan Paus Fransiskus, Gereja Katolik terus memberikan perhatian istimewa pada isu migran. Banyak PMI kita yang menjadi korban TPPO di luar negeri, sehingga mereka sangat membutuhkan pendampingan yang nyata dan terstruktur," tegasnya.
Di lokasi yang sama, Direktur Shelter Santa Theresia Batam sekaligus pimpinan Sentrum Caritas, RD Chrisanctus Paschalis Saturnus—atau yang akrab disapa Romo Paschal—menjelaskan teknis pemberdayaan di pusat fasilitas baru ini.
Nantinya, para pekerja migran akan dibekali dengan berbagai pelatihan keterampilan (skilling), edukasi mengenai prosedur migrasi resmi, hingga advokasi dan pendampingan hukum.
Romo Paschal berharap Sentrum Caritas bisa menjadi oasis dan ruang aman bagi para korban selamat dari kejahatan kemanusiaan ini.
"Praktik perdagangan orang kerap kali beririsan dengan kekerasan fisik, psikis, kekerasan seksual, hingga perbudakan modern. Kelompok yang paling sering disasar adalah perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Sentrum Caritas hadir sebagai model perlindungan bagi kelompok-kelompok rentan tersebut," pungkas Romo Paschal.
Berdasarkan catatan Shelter Santa Theresia, mayoritas korban yang terjerumus ke jalur ilegal terdesak oleh faktor impitan ekonomi di daerah asal.
Selain seremoni peresmian, agenda ini juga diisi dengan dialog strategis lintas sektoral bersama instansi pemerintah dan organisasi internasional demi memperkuat sinergi pemberantasan mafia perdagangan orang di Indonesia.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
