Identitas Kapal Diduga Dimanipulasi
Saat memeriksa dokumen kapal, petugas menemukan dugaan manipulasi identitas. Kapal yang seharusnya bernama Rainmaker dengan nomor IMO 8776849 diketahui menggunakan nama MV Ocean Porter dengan call sign 5IM336 dan terdaftar di Zanzibar, Afrika.
Petugas kemudian melakukan penggeledahan. Dari empat kontainer di bagian depan kapal, satu kontainer ditemukan dalam kondisi terkunci dan terdapat bekas las baru.
Di dalam kontainer tersebut, petugas menemukan sekitar 1.570.000 batang rokok ilegal asal China merek GD.
Sementara itu, kontainer lainnya berisi spare part dan plastik wrap yang diduga digunakan sebagai kamuflase.
Penggeledahan berlanjut setelah petugas menginterogasi salah seorang awak kapal. Dari informasi tersebut, tim menemukan ruang penyimpanan rahasia di atas kontainer.
Di lokasi itu ditemukan cairan mencurigakan. Setelah diperiksa menggunakan Narcotics Identification System (NIS), cairan tersebut dinyatakan positif mengandung methamphetamine atau sabu.
Sebanyak 10 awak kapal berkewarganegaraan Myanmar turut diamankan dalam operasi tersebut.
Barang bukti narkotika yang ditemukan terdiri atas delapan drum yang masing-masing berisi sekitar 200 liter sabu cair serta satu water tank berisi sekitar 1.000 liter.
Total narkotika cair yang diamankan mencapai 2.600 liter atau sekitar 2,6 ton.
Selain narkotika dan rokok ilegal, petugas turut menyita 15 unit handphone, sembilan paspor, satu handphone satelit, satu alat tracker, satu laptop dan satu iPad.
Suyudi mengatakan pengungkapan tersebut menjadi bagian dari upaya BNN bersama instansi terkait untuk melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan transnasional terorganisir.
Berdasarkan perhitungan BNN, dengan memperhitungkan massa jenis narkotika cair sebesar 0,92 gram per mililiter, barang bukti tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 2,826 juta mililiter narkotika murni.
Jika dikonversi menjadi produk turunan, nilai ekonomi narkotika yang berhasil digagalkan diperkirakan mencapai sekitar Rp8,47 triliun.
"Pengungkapan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan penyelamatan nyawa manusia dalam skala yang sangat masif," kata Suyudi.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
