BATAM, iNewsBatam.id - Tantangan kemerdekaan pers di tengah maraknya disinformasi, intimidasi, kekerasan terhadap jurnalis, hingga perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan dalam Seminar Internasional Festival Media Selat Malaka di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026).
Seminar tersebut menghadirkan lima narasumber dari berbagai organisasi pers di kawasan Asia. Mereka membahas kondisi kebebasan pers sekaligus tantangan yang dihadapi jurnalis di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan negara lainnya.
Seminar dibuka dengan pidato Sekretaris Pertama Bidang Politik Kedutaan Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Arne Muis, dan Pejabat Program Senior The Japan Foundation Jakarta, Purwoko Adhi Nugroho.
Dalam pidatonya, Arne menyoroti kekerasan terhadap jurnalis yang hingga kini masih terjadi di berbagai negara. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi persoalan serius mengingat jurnalis memiliki peran penting dalam menyampaikan isu kepada publik dan mengawal institusi.
“Sangat disayangkan bahwa kekerasan terus terjadi terhadap jurnalis, sementara para jurnalis mengemban peran penting dalam mengamplifikasi isu dan mengawal institusi,” ujar Arne.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, mengatakan intimidasi dan pembatasan terhadap kerja jurnalistik juga masih ditemukan di Indonesia. Hambatan tersebut, kata dia, terutama muncul ketika jurnalis meliput isu yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
“Saat ini jurnalis kerap menemui hambatan dalam meliput isu-isu, contohnya yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga Proyek Strategis Nasional,” kata Nany.
Editor : Gusti Yennosa
