Kekalahan Liverpool tidak lepas dari buruknya antisipasi terhadap situasi bola mati. Ketiga gol Fenerbahce lahir melalui skema berbeda, yakni tendangan bebas, sepak pojok, dan lemparan ke dalam.
Padahal, Liverpool menguasai 66 persen penguasaan bola dan melepaskan 22 percobaan tembakan, dengan enam di antaranya tepat sasaran. Fenerbahce hanya mencatatkan 34 persen penguasaan bola.
Pelatih Liverpool Andoni Iraola mengakui timnya melakukan kesalahan yang seharusnya bisa dihindari, terutama ketika menghadapi bola mati.
"Gol-gol yang murah, gol-gol yang berantakan," ujar Iraola menggambarkan kebobolan timnya, seperti dikutip The Guardian.
Dia mengakui Fenerbahce memiliki keunggulan dalam situasi bola mati. Namun, menurutnya, Liverpool seharusnya mampu mengantisipasi ancaman tersebut dengan lebih baik.
Iraola juga mengaku frustrasi karena Liverpool sempat dua kali berada dalam posisi unggul, tetapi gagal mempertahankannya hingga pertandingan berakhir.
Kekalahan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Liverpool, terutama dalam membenahi koordinasi pertahanan.
Sementara bagi Fenerbahce, kemenangan dramatis tersebut menjadi suntikan kepercayaan diri setelah berhasil menaklukkan salah satu klub besar Eropa.
Editor : S. Widodo
Artikel Terkait
