BATAM, iNewsBatam.id – Kebutuhan air bersih untuk industri pusat data atau data center di Batam bakal dipenuhi melalui pembangunan instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Proyek senilai Rp600 miliar ini ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2027.
Fasilitas SWRO tersebut disiapkan untuk memasok kebutuhan air perusahaan data center di kawasan Kabil dan Nongsa. Pada tahap awal, instalasi ini akan memiliki kapasitas produksi 300 liter per detik (LPS).
Kapasitasnya direncanakan terus ditingkatkan hingga mencapai 700 LPS pada 2030. Dengan begitu, kebutuhan air industri data center di dua kawasan tersebut diharapkan dapat dipenuhi tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber air yang juga digunakan masyarakat.
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pembangunan SWRO menjadi salah satu solusi untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan air seiring berkembangnya industri data center.
“Ini adalah jawaban untuk memenuhi kebutuhan air di data center. Untuk kebutuhan internalnya, investor akan menyediakan air tersendiri melalui SWRO,” kata Amsakar seusai mengikuti peletakan batu pertama proyek SWRO, Kamis (5/11/2026).
Menurut Amsakar, pembangunan tahap pertama diperkirakan rampung pada Oktober hingga November 2027. Proyek tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan BP Batam dengan mitra investor yang sebelumnya telah menjalin kerja sama.
Dia berharap mitra lain yang terlibat dalam pengembangan industri data center di Batam, termasuk DayOne dan Equator, segera merealisasikan pembangunan fasilitas serupa.
Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Kabil, Peters Vincen, menjelaskan fasilitas SWRO dirancang untuk melayani kebutuhan air di kawasan Kabil dan Nongsa.
Kapasitas akhir 700 LPS diproyeksikan mampu mencukupi kebutuhan perusahaan data center yang masuk dalam perencanaan.
“Harusnya semua sudah bisa tercakup. Perhitungan kita, 700 LPS itu bisa untuk Nongsa dan Kabil,” ujarnya.
Dalam proses pengolahannya, air laut akan dialirkan melalui jaringan pipa menuju instalasi SWRO. Air kemudian diproses menggunakan teknologi reverse osmosis untuk memisahkan kandungan garam dan menghasilkan air bersih.
Hasil pengolahan selanjutnya ditampung dalam tangki sebelum disalurkan kepada perusahaan data center. Kebutuhan masing-masing perusahaan berbeda, bergantung pada kapasitas dan teknologi yang digunakan.
Peters menyebut data center berkapasitas besar dapat membutuhkan air hingga 100 LPS. Sementara itu, sebagian perusahaan lainnya diperkirakan hanya memerlukan sekitar 10 LPS.
Saat ini, kebutuhan air untuk pembangunan data center masih memanfaatkan waduk yang tersedia di kawasan industri.
Kehadiran SWRO diharapkan membuat kebutuhan operasional industri tersebut memiliki sumber pasokan tersendiri sehingga tidak mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.
Terkait dampak lingkungan, Peters mengatakan sisa air berkadar garam tinggi atau konsentrat dari proses pengolahan akan melalui penanganan khusus sebelum dibuang ke laut. Pengelolaannya disebut akan disesuaikan dengan ketentuan lingkungan hidup.
“Jadi sebelum dibuang ke laut, ada penanganan khusus. Kami harapkan semuanya sudah sesuai dengan ketentuan DLH,” katanya.
Untuk pembangunan tahap awal, nilai investasi SWRO diperkirakan mencapai Rp600 miliar. Namun, tarif produksi air masih dihitung, termasuk biaya pembangunan jaringan pipa distribusi menuju kawasan Nongsa.
Peters mengatakan perhitungan tersebut diperlukan agar biaya produksi dan tarif air yang dibebankan kepada perusahaan data center tetap efisien.
Sementara itu, pengembangan industri data center di Batam masih berlangsung secara bertahap. Kapasitas operasional yang berjalan saat ini diperkirakan berada di kisaran 20-30 megawatt (MW). Adapun target pengembangan hingga 1 gigawatt (GW) diproyeksikan tercapai pada 2030.
CEO Citramas Group, Mike Wiluan, mengatakan pertumbuhan industri data center juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi Batam.
Selain menyerap tenaga kerja, pengembangan sektor ini dinilai dapat mendorong aktivitas usaha pendukung, mulai dari konstruksi, logistik, keamanan, jasa pemeliharaan hingga UMKM lokal.
Untuk menunjang operasional industri, pihaknya juga menyiapkan infrastruktur pendukung berupa pasokan listrik bersama PLN Batam serta konektivitas internet melalui jaringan kabel serat optik bawah laut.
“Untuk kebutuhan air bersih, atas izin dan dukungan BP Batam, hari ini kami mulai pembangunan fasilitas SWRO tahap pertama 300 LPS dengan target beroperasi Oktober 2027 dan total rencana 700 LPS pada 2030,” kata Mike.
Selain membangun SWRO, Citramas telah mengembangkan sumber air mandiri sejak 1992 melalui embung seluas 6 hektare dengan kapasitas produksi 60 LPS. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat menjadi 120 LPS pada kuartal I 2027.
Editor : S. Widodo
Artikel Terkait
