Ketegangan kembali meningkat menjelang pelaksanaan pertandingan. Dian menyebut surat pemberitahuan dari PB Porprov yang menyatakan atlet Batam tidak diperbolehkan bertanding diterima pada Sabtu (31/10/2026) sore.
Padahal, para atlet telah menjalani latihan intensif selama tiga hingga lima tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat provinsi tersebut.
Dian menilai keputusan mendadak itu berpotensi merugikan atlet yang sudah mengorbankan waktu dan tenaga selama menjalani pemusatan latihan.
Dia juga menduga persoalan tersebut berkaitan dengan upaya pihak tertentu yang mengangkat kembali isu lama mengenai proses seleksi atlet.
"Atlet-atlet kita memiliki masa depan. Jangan sampai mereka dizalimi secara terus-menerus dan mental mereka dihancurkan. Ini adalah ajang multi-event tingkat Provinsi Kepri, bukan milik pribadi FPTI," kata Dian.
Dian yang telah membina olahraga panjat tebing Batam selama 16 tahun sejak Porkot 2009 berharap persoalan organisasi tidak sampai mengorbankan kesempatan atlet untuk bertanding.
Dian menyebut awalnya terdapat enam atlet yang mengalami ketidakjelasan status. Namun, setelah koordinasi dilakukan, jumlah atlet yang masih bermasalah kini berkurang menjadi empat orang.
Pengcab FPTI Batam berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui forum resmi, termasuk dalam Technical Meeting (TM) yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam.
"Awalnya ada enam atlet yang belum ada kejelasan. Namun, saat ini mereka telah mengubah menjadi empat. Malam ini juga akan diadakan TM (Technical Meeting), semoga ada jalan keluar terbaik," ujarnya.
Diketahui, Kota Batam selama 16 tahun terakhir disebut konsisten mempertahankan tradisi juara umum cabang olahraga panjat tebing di tingkat Provinsi Kepri.
Pengcab FPTI Batam berharap seluruh pihak mengedepankan regulasi organisasi dan sportivitas agar polemik menjelang Porprov Kepri 2026 tidak berujung pada hilangnya kesempatan atlet untuk menunjukkan kemampuan mereka di arena pertandingan.
Editor : Gusti Yennosa
Artikel Terkait
